Sabtu, 12 September 2020

Perkembangan Pasar Modal di Dunia dan Indonesia yang dikaitkan dengan adanya Covid 19 Perbandingan keadaan pasar modal sebelum masa new normal dan sesudah New Normal.

 Perkembangan pasar modal di dunia dan Indonesia yang dikaitkan dengan adanya Covid 19 dengan keadaan pasar modal sebelum masa New Normal dan sesudah New Normal



      Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Inarno Djajadi menyampaikan perkembangan terbaru kondisi pasar modal Indonesia.

   Selama tahun berjalan hingga penutupan perdagangan 17 April 2020, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat drop 26,43 persen menjadi 4.635 dengan diikuti penurunan kapitalisasi pasar sebesar 26,11 persen menjadi Rp 5.368 triliun.

  Selain itu, rata-rata frekuensi harian turun 1,49% menjadi 462.000 kali. Dan yang lebih menyakitkan lagi, nilai rata rata transaksi harian turun 23,84 persen menjadi Rp 6,34 triliun.

“Pada 2020 hampir semua indeks bursa global mengalami penurunan, dengan penurunan nilai kapitalisasi pasar. Yang tertinggi dialami Austria, sedangkan penurunan market cap tertinggi dialami di Amerika Serikat sebesar US$ 3 triliun,” papar Inarno melalui video conference yang dilaksanakan akhir pekan.

Perkembangan Pasar Modal pada saat sebelum New normal dalam Pergerakan IHSG

  Inarno menjelaskan pergerakan IHSG dan nilai transaksi turun signifikan pada Maret 2020. Saat itu, setelah Presiden Joko Widodo menyampaikan di sudah ada satu orang yang positif terinfeksi virus Covid-19.

  Sementara dari eksternal, pada saat yang sama wabah corona meluas ke berbagai negara. Ini membuat investor global dan domestik merespons negatif pasar keuangan baik di dalam negeri maupun luar negeri.

“Situasi ketidakpastian terus berjalan sampai saat IHSG sentuh level terendah pada hari Selasa, 24 Maret 2020, indeks turun 37.49 persen dibanding posisi akhir tahun lalu, dan semoga ini menjadi puncak penurunan terdalam di tahun ini,” kata Inarno.

Inarno menyampaikan, koreksi IHSG terdalam sepanjang sejarah sebesar minus 50,6 persen. Itu terjadi saat krisis keuangan global 2008 yang disebabkan kasus Subprime Mortgage di AS.

“Meskipun kita lihat indeks mengalami penurunan, aktivitas perdagangan cukup baik. Rata rata perdagangan Maret Rp 7,9 triliun per hari, meningkat dari Januari dan Februari,” ujar Inarno.

Secara sektoral, Inarno memaparkan, terjadi penurunan di seluruh indeks sektoral, tertinggi pada harga saham di sektor aneka industri, sebesar -40,60 persen. Ini terjadi dengan penurunan harga saham perusahaan besar di aneka industri, salah satunya saham PT Astra Internasional Tbk (ASII).

Harga saham ASII tercatat turun 40 persen dari sebelumnya. Selain itu, dari penurunan nilai kapitalisasi pasar tertinggi terjadi pada sektor keuangan. Nilai kapitalisasi pasar sektor ini turun sebesar Rp 708 triliun.

Dalam situasi yang penuh ketidakpastian tersebut, investor asing keluar dari pasar saham domestik dan beralih ke instrumen investasi yang berkarakter safe haven.

Menurut catatan BEI, terjadi net sell Rp 14,87 triliun selama periode yang sama. Periode terbesar penarikan dana asing di bursa saham Indonesia terjadi pada akhir Februari hingga April 2020.

Perkembangan Pasar Modal setelah masa New Normal 

Setelah masa New Normal, Pasar Modal Tumbuh 13 Persen.




   Memasuki era new normal di pertengahan 2020 Pandemi Coronavirus Disease (Covid-19) masih menjadi tema utama perbincangan di berbagai sektor. Di pasar modal Indonesia, peristiwa ini turut direspon para investor dalam menentukan keputusan arah

Adapun perkembangan Pasar Modal Indonesia terkini, saat ini hampir seluruh kinerja indeks Bursa Global mengalami penurunan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun sebesar 21,13 persen di level 4.905 pada 30 Juni 2020, dibanding akhir tahun 2019. Pada umumnya, seluruh indeks sektoral mengalami penurunan secara year to date.

“Sektor yang mengalami penurunan paling dalam selama tahun 2020 adalah sektor property dan real estate sebesar 36,09 persen. Di sisi lain, sektor consumer goods menunjukkan kinerja indeks yang relatif baik dibandingkan indeks acuannya (IHSG dan LQ45). Bahkan, sektor consumer goods mampu mencatatkan kinerja positif sejak adanya pengumuman kasus Covid-19 pertama di Indonesia,” kata Kepala Kantor Bursa Efek Indonesia (BEI) Perwakilan Sumatera Utara (Sumut), Muhammad Pintor Nasution, Minggu (5/7/20).

  Rata-rata frekuensi perdagangan meningkat 9,64 persen menjadi 514 ribu kali per hari dengan rata-rata total nilai transaksi dan volume transaksi masing-masing sebesar Rp7,67 triliun per hari dan 7,63 miliar lembar per hari.

“Sejak Maret 2020, aktivitas transaksi terus mengalami peningkatan seiring diterbitkannya rangkaian kebijakan pemerintah dan otoritas sektor keuangan dalam melakukan stabilisasi kondisi perekonomian dalam negeri. Meski aktivitas ekonomi nasional dibayangi pandemi Covid-19, hal ini tidak menyurutkan minat perusahaan untuk masuk ke pasar modal,” jelasnya

Sementara, perkembangan Initial Public Offering (IPO), terdapat 29 perusahaan tercatat baru di BEI sampai dengan 1 Juli 2020 dan terdapat 22 pipeline pencatatan efek saham baru. Pencapaian perusahaan tercatat baru di BEI ini merupakan jumlah tertinggi di antara bursa efek di kawasan ASEAN.

Hingga 17 Juni 2020, terdapat 296 perusahaan tercatat atau 43,3 persen dari total perusahaan tercatat di BEI telah menyampaikan Laporan Keuangan Kuartal 1-2020. Total agregat laba bersih dari 296 perusahaan tersebut pada kuartal 1(Q1) 2020 mencapai Rp63,4 triliun, atau mengalami penurunan sebesar 19,71 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Nilai perhitungan kinerja keuangan perusahaan tercatat ini akan terus bergerak, karena  batas waktu penyampaian laporan keuangan Q1-2020 perusahaan tercatat direlaksasi sampai akhir 30 Juni 2020,” jelasnya.

Adapun komposisi persentase penyampaian laporan keuangan perusahaan tercatat Q1-2020 di Indonesia sebanyak 43,3 persen tersebut sejalan dengan tren di kawasan regional ASEAN, meliputi Singapura dan Malaysia masing-masing 34 persen dan 66 persen dari total perusahaan tercatat yang ada di kedua bursa di negara tersebut.

“Dari sisi investor pasar modal, sampai dengan Mei 2020, terdapat pertumbuhan jumlah investor sebesar 13 persen menjadi 2,81 juta investor, yang terdiri dari investor saham, reksa dana, dan obligasi, dibandingkan akhir tahun lalu. Investor saham mengalami kenaikan sebesar 8 persen dari tahun 2019 atau mencapai 1,19 juta investor saham berdasarkan Single Investor Identification (SID) per Mei 2020. Jika dilihat dari klasifikasi usia investor, Pasar Modal Indonesia mulai didominasi oleh investor muda dan milenial, tercermin dari tren pertumbuhan investor saham yang berada pada usia 18-30 tahun dalam 4 tahun terakhir,” papar Pintor.

Untuk pertumbuhan aktivitas investor ritel dalam tiga bulan terakhir juga melonjak, yang secara rata-rata naik lebih dari 50 persen (periode April -Juni 2020) dibandingkan di periode yang sama pada tahun sebelumnya. Dari sisi jumlah produk berbasis local index, pertumbuhan Exchange Traded Fund (ETF) yang eksponensial, membuat Indonesia menduduki peringkat pertama di ASEAN, seiring dengan pertumbuhannya yang signifikan sejak 2018.

“Pada Juni 2020, telah dicatatkan 2 produk ETF baru di BEI, sehingga sampai dengan saat ini, telah terdapat 45 ETF tercatat, 22 manajer investasi penerbit ETF, dan 7 dealer partisipan ETF di Pasar Modal Indonesia. Nilai transaksi ETF secara keseluruhan juga terus menunjukkan peningkatan yang signifikan pada beberapa tahun terakhir dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 55% sejak 2016 sampai dengan 2019,” terangnya.

Meningkatkan Stabilitas Pasar Modal pada Era New Normal

  Ditengah" pandemi covid -19 dinamika Pasar Keuangan global sepanjang Semester I 2020, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan mayoritas indeks acuan bursa global mengalami penurunan yang signifikan. Sampai dengan 7 Agustus 2020, IHSG masih ditutup di zona merah dengan –18,34%. Hal senada juga dialami oleh bursa global lain yang memiliki total kapitalisasi pasar lebih besar atau sama dengan USD 100 miliar. Namun demikian, Pasar Modal Indonesia masih berhasil mencatatkan perkembangan yang positif dan kinerja tertinggi di antara Bursa-bursa ASEAN.

  Dari sisi supply, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) sampai dengan 10 Agustus 2020 berhasil mencatatkan 35 saham baru dan sekaligus merupakan yang tertinggi di antara Bursa ASEAN, diikuti oleh 11 saham baru di Malaysia, 5 saham baru di Singapura, 4 saham baru di Thailand, dan 1 saham baru di Filipina (data per 31 Juli 2020). Sementara itu, dilihat dari segi fund raised sebesar USD 260 juta, BEI berada di peringkat ke-2 di antara ASEAN setelah Thailand (USD 2,76 miliar). Pencatatan saham baru ini di BEI diikuti dengan 7 pencatatan ETF baru, 1 EBA, dan 1 Obligasi Baru.

  Dari sisi demand, jumlah investor Pasar Modal Indonesia yang tercatat pada PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per Juli 2020, yang terdiri atas investor saham, reksa dana, dan obligasi telah bertumbuh sebesar 22% dari tahun 2019 lalu, menjadi 3,02 juta investor. Dari jumlah tersebut, 42% di antaranya merupakan investor saham. Kondisi pandemi COVID-19 ternyata tidak menyurutkan minat investor untuk bertransaksi saham. Hal ini ditandai dengan meningkatnya jumlah rerata harian investor ritel saham yang melakukan transaksi sejak Maret sampai dengan Juli 2020, atau meningkat 82,4% dari bulan Maret 2020 sebanyak 51 ribu mencapai 93 ribu investor pada Juli 2020. Angka investor ritel yang bertransaksi di bulan Juli tersebut berada di atas rata-rata investor aktif ritel sejak awal tahun 2020 yang sebanyak 65 ribu investor ritel.

  Sementara dari sisi aktivitas perdagangan di BEI, tercatat rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) mencapai Rp7,67 triliun/hari sampai dengan periode Juli-2020, dengan total rata-rata frekuensi dan volume transaksi perdagangan masing-masing mencapai 537 ribu kali dan 7,91 miliar lembar saham. Adapun angka rata-rata frekuensi perdagangan di BEI tersebut merupakan yang tertinggi di Bursa Efek kawasan ASEAN sejak 2018.

 Secara resmi, dengan mengusung tema “Meningkatkan Stabilitas Pasar Modal pada Era New Normal”, Peringatan 43 Tahun Diaktifkannya Kembali Pasar Modal Indonesia dibuka dengan Seremoni Pembukaan Perdagangan dan dilanjutkan dengan Konferensi Pers Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self-Regulatory Organization (SRO) pada hari ini, Senin (10/8) secara semi virtual di Main Hall BEI dan via Zoom webinar. Beberapa rangkaian kegiatan lain yang akan diselenggarakan, yaitu Public Expose Live 2020, The 6th Indonesian Finance Association International Conference, Sekolah Pasar Modal untuk Negeri, Capital Market Summit & Expo 2020, Capital Market Fun Day, CEO Networking, kompetisi berupa Indonesia Capital Market Got Talent, Tiktok and Youtube Competitions, 10 Days Challenge, Kompetisi Virtual Trading dan e-Competitions olah raga dan games, serta kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR). Tahun ini juga diadakan kembali kegiatan media berupa Media Gathering Virtual dan Kompetisi Penulisan Artikel dan Fotografi Jurnalistik untuk Wartawan Pasar Modal.

Pencapaian SRO

  Bursa Efek Indonesia
Pada 2020, BEI bersama OJK dan SRO telah mengimplementasikan serangkaian kebijakan untuk memitigasi dampak pandemi COVID-19 di lingkungan Pasar Modal Indonesia di antaranya Kebijakan untuk Emiten dan Perusahaan Publik, Kebijakan untuk mendukung kelangsungan Operasional Perdagangan BEI, Kebijakan pelaksanaan Work from Home bagi stakeholders Pasar Modal dan Kebijakan mengenai On-Site Audit Protokol. Di samping itu, sebagai upaya mendukung program pemerintah dalam memitigasi dampak COVID-19 terhadap aktivitas perekonomian nasional, Self Regulatory Organisation (SRO) melalui koordinasi bersama-sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menetapkan serangkaian stimulus yang diberikan kepada stakeholders pasar modal dan telah tertuang pada Press Release BEI No: 055/BEI.SPR/06-2020 atau melalui tautan .

Selain itu, BEI bersama dengan OJK dan SRO pada hari ini 10 Agustus 2020 telah melakukan soft launching Sistem Electronic Indonesia Public Offering (e-IPO) atau sarana yang dapat membantu proses Penawaran Umum Perdana agar menjadi lebih efisien, efektif, dan transparan melalui pendekatan sistem. Sistem ini diharapkan dapat meningkatkan kemudahan akses investor untuk berpartisipasi dalam Pasar Perdana baik mulai dari tahap pembentukan harga sampai Penawaran Umum, serta meningkatkan kepercayaan investor terhadap proses Penawaran Umum dan harga Initial Public Offering (IPO) yang telah ditetapkan. Dengan adanya e-IPO, investor yang ingin membeli saham IPO dapat langsung mengakses situs atau melalui Partisipan Sistem e-IPO yang telah terdaftar. Diharapkan investor dapat berpartisipasi dengan mudah dalam seluruh Penawaran Umum.

  Pada kesempatan ini juga BEI meluncurkan indeks baru yakni Indeks IDX Quality30 yaitu indeks yang berbasis faktor kualitas fundamental perusahaan. Indeks IDX Quality30 diharapkan dapat digunakan oleh investor sebagai panduan untuk berinvestasi, dan sebagai landasan acuan bagi penyusunan produk-produk pasar modal lainnya, seperti Reksa Dana, ETF, serta produk-produk derivatif lainnya.

  Kliring Penjaminan Efek Indonesia
Sehubungan dengan peran PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) sebagai Lembaga Kliring dan Penjaminan, hingga akhir Juli 2020, nilai rata-rata efisiensi penyelesaian dari mekanisme kliring secara netting untuk Transaksi Bursa mencapai 52,52%, sedangkan rata-rata efisiensi dari sisi volume mencapai 58,39%. Hal ini mengalami peningkatan dibanding tahun 2019 yang mana rata-rata efisiensi penyelesaian dan efisiensi volume sebesar 48,84% dan 56,54%. Untuk pengelolaan risiko penyelesaian Transaksi Bursa, KPEI mengelola Agunan milik Anggota Kliring dengan nilai mencapai Rp18,76 triliun. Adapun sumber keuangan untuk Penjaminan Penyelesaian Transaksi Bursa, yaitu Cadangan Jaminan dan Dana Jaminan telah mencapai Rp158,37 miliar dan Rp5,31 triliun mengalami peningkatan dari nilai sebelumnya masing-masing sebesar Rp153,15 miliar dan Rp5,01 triliun di tahun 2019.

Untuk peningkatan kapasitas organisasi, KPEI berhasil melakukan renewal sertifikasi Sistem Manajemen Keamanan Informasi (SMKI) ISO 27001:2013 untuk ruang lingkup seluruh divisi dan unit di KPEI serta penambahan New Data Centre dan berhasil meraih sertifikat Sistem Manajemen Kelangsungan Usaha (Business Continuity Management System/BCMS) ISO 22301:2012.

Guna mendukung perluasan peran Lembaga Kliring dan Penjaminan dalam transaksi pasar keuangan, BEI selaku Pemegang Saham KPEI melakukan peningkatan Modal Ditempatkan/Disetor KPEI dari semula Rp165 miliar menjadi Rp200 miliar. Selain memenuhi persyaratan melalui peningkatan modal disetor/ditempatkan, KPEI juga telah melengkapi persyaratan-persyaratan lainnya dan telah mengajukan permohonan persetujuan prinsip kepada Bank Indonesia untuk menjadi lembaga Central Counterparty (CCP) bagi transaksi Derivatif SBNT-OTC di Indonesia. Saat ini masih dalam proses menunggu keputusan dari Bank Indonesia.

  Bersama BEI dan KSEI, melalui koordinasi dengan OJK, KPEI telah menetapkan serangkaian stimulus yang diberikan kepada stakeholders pasar modal, dengan menerapkan relaksasi atas Dana Jaminan yaitu dengan memberikan keringanan atas kutipan setoran Dana Jaminan kepada Anggota Kliring yang sebelumnya sebesar 0,01% (satu persepuluh ribu) menjadi sebesar 0,005% (lima perseratus ribu) dari nilai setiap Transaksi Bursa atas Efek Bersifat Ekuitas. Kebijakan ini berlaku 6 (enam) bulan terhitung dari 18 Juni sampai dengan 17 Desember 2020. Disamping itu ditetapkan juga kebijakan relaksasi penyesuaian nilai haircut saham untuk perhitungan agunan dan Modal Kerja Bersih Disesuaikan setiap Anggota Kliring.

Kustodian Sentral Efek Indonesia

Dalam rangka mendukung penerapan kebijakan pemerintah terkait Pembatasan Sosial Berskala Besar dan physical distancing dalam menghadapi pandemi COVID-19, KSEI telah mempercepat realisasi penggunaan platform electronic proxy (e-Proxy) dengan nama eASY.KSEI sejak 20 April 2020. eASY.KSEI merupakan sistem yang digunakan pemegang saham dalam pemberian suara dan kuasa secara elektronik kepada pihak lain untuk hadir pada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). eASY.KSEI dapat diakses oleh pemegang saham dan perwakilan individu dengan cara login melalui website AKSes KSEI ().

Di samping itu, bersama dengan SRO lainnya, KSEI juga telah menetapkan serangkaian stimulus yang diberikan kepada stakeholders pasar modal, yang meliputi Penerbit Efek, Perusahaan Efek, Bank Kustodian, dan Pengguna S-INVEST, dalam rangka meringankan beban ekonomi yang dihadapi, serta menjaga optimisme pasar terhadap stabilitas pertumbuhan pasar modal dan sektor keuangan yang terkena dampak Pandemi COVID-19.

Sepanjang tahun 2019-2020, KSEI menandatangani beberapa perjanjian kerja sama dalam rangka mendukung pengembangan yang dilakukan oleh perseroan, yaitu:

Kerja sama terkait Pengelolaan Dana Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera) melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) secara sirkuler pada 13 April 2020. 
Pembaharuan penandatanganan perjanjian dengan Emiten terkait dengan implementasi eASY.KSEI, yang saat ini proses penandatanganannya masih terus berjalan.
Terdapat penambahan tiga Perusahaan Efek (PE) yang melakukan kerjasama dengan KSEI dalam program Simplifikasi Pembukaan Rekening Efek Nasabah, diantaranya adalah PT Jasa Utama Capital Sekuritas, PT Ekuator Swarna Sekuritas, PT Mirae Asset Sekuritas. Penambahan ini meningkatkan jumlah PE yang ikut serta dalam program Simplifikasi Pembukaan Rekening Efek Nasabah menjadi 14 PE. 

KSEI juga telah mengimplementasikan fase lanjutan dari C-BEST Next-G yang mencakup modul Corporate Action, serta peningkatan kecepatan pemrosesan dari 20.000 menjadi 80.000 transaksi per menit. Dari sisi kinerja operasional, jumlah investor di Pasar Modal Indonesia meningkat 21,66% dibandingkan dengan tahun 2019, yang terdiri dari jumlah investor Efek yang naik 15,88%, investor Reksa Dana meningkat 30,50% dan investor SBN meningkat 21,09%.

               DAFTAR PUSTAKA
https://www.vibiznews.com/2020/08/10/meningkatkan-stabilitas-pasar-modal-pada-era-new-normal/
https://www.google.com/ampls/www.mstar.id./ekonomi/new- normal-pasar-modal-tumbuh-13-persen/amp
https://www.google.com/ampls/www.mstar.id/ekonomi/New-Normal-pasar-modal -covid -19.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PERILAKU INVESTOR

Assalammualaikum teman" diblog sebelumnyaa aku sudah membahas apa itu investasi,bagaimana caranya berinvestasi , apa itu psar modal, si...